Timnas dengan Permainan Bola Pingpongnya

Bambang Pamungkas cs (sumber : sidomi.com)

 

Sungguh ironi memang perjalanan sepak bola di negara ini, ketika negara lain sudah berbicara soal prestasi namun negara ini masih bicara kekisruhan. Sejauh itukah perkembangan negara ini dibandingkan negara lain. Sebagai penghantarnya, mari sedikit membahas tentang carut-marutnya, induk organisasi sepak bola di negara ini PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).

Kekisruhan yang terjadi dalam tubuh PSSI ini sungguh memprihatinkan. Pertikaian yang terjadi di antara pihak-pihak yang terkait, yang hanya mementingkan golongannya masing-masing berdampak negatif.

Alhasil teguran maupun ancaman dari AFC maupun FIFA, diterima PSSI kepengurusan sekarang maupun kepengurusan PSSI sebelumnya. Namun apa kenyataaannya, pihak-pihak yang terlibat tidak bergeming bahkan kedua pihak yang bertikai bukan intropeksi diri namun yang terjadi malah saling tuding dan menyudutkan satu sama lain. Paling tidak Itulah prestasi PSSI untuk saat ini.

Bayangkan saja, ada seorang narapidana yang kebetulan menjabat sebagai ketua umum PSSI ketika itu, masih bisa menjabat dan memerintah meskipun sudah di balik jeruji besi karena kasus korupsi. Hebat bukan, mungkin hanya di negeri ini kejadian seperti itu terjadi.

 

Akibat dari semua itu, bukan hanya pemain timnas, masyarakat dan PSSI itu sendiri yang dirugikan. Namun nama bangsa Indonesia juga kena dampaknya di dunia internasional.

 

Itu semua akibat perbuatan orang-orang yang hanya mementingkan isi perutnya masing-masing. Bahkan sekarang ada dua PSSI dan timnas. Sebenarnya sepak bola tanah air ini mau dibawa ke mana oleh mereka, apa menuju jurang kehancuran.

Mungkin mereka beranggapan seperti ini, “Bila dua timnas diakui oleh AFC dan FIFA, seandainya timnas yang satu kalah kan masih ada timnas satunya lagi sebagai cadangan”. Sebuah keuntungan bukan, dan masih mungkin lagi ini merupakan strategi pihak-pihak yang betikai itu untuk membawa timnas meraih prestasi, karena mereka sudah tidak tahu lagi cara lainnya. Negara mana yang mempunyai dua tim nasional selain Indonesia.

Tidak usah berlama-lama di sini membahas kekisruhan yang terjadi di tubuh PSSI, sepertinya lebih menarik membahas bagaimana mengenai pola permainan yang diadopsi oleh timnas Indonesia di saat sekarang ini.

Semenjak mengikuti perkembangan timnas mulai dari pelatih Benny Dollo hingga Nil Maizar pola permainan timnas senior maupun junior tidak jauh beda.

 

Pola permainan “Bola pingpong” selalu menjadi pilihan favorit para pelatih yang pernah menangani timnas Indonesia. Kenapa saya mengatakan permainan bola pingpong yang diadopsi oleh timnas kita? Ya, menurut saya permainan timnas Indonesia mirip seperti cara memainkan bola pingpong, bola dari pemain belakang langsung dilambungkan menuju area pertahanan lawan, meskipun tidak ada kawan yang menyambut, yang terpenting bola jangan sampai di area pertahanan kita.

Menjadi menarik dan lucu kalau timnas kita kebetulan bertemu timnas negara lain yang menganut pola permainan sama seperti itu, bisa Anda bayangkan sendiri.

 

Ketika melihat timnas berlaga, mata kita bukan dimanjakan dengan tontonan menarik tapi justru sebaliknya mata kita dibuat capek dengan permainan seperti itu. Terkadang malah dibuat jengkel sendiri karena melihat para pemain kita sering kehilangan bola karena terlalu sering membuang-buang bola dengan maksud ingin mengoper kepada kawannya.

Mungkin ada bagusnya juga pola permainan seperti itu ditunjang kecepatan yang dimiliki para pemain sayap dan lini depan kita. Dengan harapan para pemain kita, bisa memenangi duel dengan beradu sprint dengan lawannya dan juga menjadikan pemain lini tengah timnas tidak terlalu keletihan.

 

Namun alhasil pemain tengah kita justru kebingungan mau bermain seperti apa dengan pola permainan seperti itu. Begitu juga dengan lini depan kita, pemain depan kita hampir selalu kalah ketika berebut bola-bola udara, postur tubuh lawan lebih besar.

Pola permainan “bola pingpong” yang diterapkan sang pelatih justru sangat menguras stamina pemain, terutama di babak kedua. Terlihat jelas ketika kita melihat timnas berlaga, setelah jeda babak pertama para pemain kita terlihat kedodoran dalam menghalau serangan lawan, bahkan cenderung seperti bermalas-malasan karena stamina mereka terkuras di babak pertama lari sana-sini tanpa tujuan yang jelas di lapangan.

 

Ternyata pola permainan seperti itu tidaklah cocok diterapkan di timnas. Karena kita tahu para pemain timnas mayoritas bertubuh mungil, pola permainan seperti itu dibutuhkan pemain yang bertubuh tinggi besar untuk memenangi duel-duel di udara dengan lawannya.

Timnas tidak mempunyai pemain seperti Zlatan Ibrahimovic maupun Adriano Leite, mereka sangat sempurna dengan pola permainan seperti itu.

 

Lalu pola permainan seperti apa yang cocok untuk timnas Indonesia, dengan melihat mayoritas pemain dengan bertubuh mungil

Menurut pengamatan saya, mungkin akan lebih bagus dengan menerapkan umpan-umpan pendek dan sesekali melakukan umpan-umpan tusukan ke jantung pertahanan lawan.

 

Mungkin dengan pola permainan seperti itu, timnas lebih cocok karena ditunjang dengan kecepatan yang dimiliki oleh para pemain. Kelebihan yang dimiliki para pemain harus dimanfaatkan dengan pola permainan yang tepat, hal ini tentunya akan membantu bagi para pemain itu sendiri untuk mengeluarkan kemampuan terbaik mereka dan akan membuat pemain kita bermain lebih nyaman dengan kondisi seperti itu ditengah lapangan.

Sedangkan pemain timnas kita seharusnya lebih berani untuk mempertahankan bola di kakinya. Kalau kita lihat para pemain timnas, seperti ketakutan setiap kali menerima bola dan itu membuat cara bermain keseluruhan tim terkesan “grusa-grusu” (terlalu buru-buru).

 

Terlepas dari kepengurusan induk sepak bola negeri ini yang amburadul, metode latihan dan pola permainan juga sangat menentukan untuk meraih sebuah prestasi. Bukan semata-mata karena postur tubuh pemain timnas kita yang kecil sebagai pesepakbola jangan dijadikan sebuah alasan gagalnya meraih prestasi.

Kita lihat, para pemain Korea Selatan dan Jepang bisa bersaing dengan negara-negara Eropa, bahkan ada beberapa yang menjadi pemain klub-klub papan atas Eropa.

 

Lihatlah cara bermain Barcelona, dengan berisikan pemain mungil namun bisa merajai Eropa bahkan dunia. Karena apa, karena mereka melakukan metode yang benar dan itu diterapkan dalam hal fasilitas latihan, pembinaan pemain muda, metode latihan, pola permainan dan pastinya didukung dengan manajemen yang benar dalam pengelolaannya.

 

Bukan bermaksud membandingkan timnas Indonesia dengan Barcelona karena keduanya sudah dalam kasta yang berbeda, namun kita bisa mengambil caranya. Bukan berarti terus membawa punggawa timnas berlatih di sana karena itu hanya menghabiskan biaya, cukup dengan perwakilan tim dan ilmu yang didapat selanjutnya diterapkan.

 

Janganlah semua itu hanya dijadikan pencitraan semata karena hanya ingin menutupi kebobrokan di tubuh PSSI, melainkan ketulusan dan keikhlasan demi majunya timnas Indonesia.

Kita sebagai pecinta sepak bola tanah air hanya bisa menjadi penonton, melihat bagaimana pongahnya para pemimpin dan kita hanya bisa berharap, semoga konflik sepak bola yang terjadi di tanah air secepatnya selesai dan timnas Indonesia bisa bersaing di kancah Internasional, tentunya dengan raihan trofi juara.

Tulisan ini juga dimuat di beritasatu.com

Posted on October 18, 2012, in Beranda, Indonesia, Sepak bola. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: