Mengulik Sejarah El Classico

Dok. soccer

 Sepak bola memang tidak bisa lepas dari politik, seperti halnya dalam pertandingan El Derbi Espanyol atau yang kita kenal sebagai El Classico.

Derbi klasik yang mempertemukan dua tim besar dan tersukses di Spanyol antara Real Madrid dan Barcelona.

Bermula dari dunia perpolitikan di Spanyol, seorang pemimpin Spanyol bernama Francisco Franco pada tahun 1934. Franco merebut kekuasaan di Spanyol setelah kaum nasionalis, Franco kala itu mendapatkan bantuan dari Fasis Italia dipimpin oleh Mussolini dan Nazi Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler mengalahkan kaum Republikan,dalam sebuah perang saudara di Spanyol.

Fransisco Franco

Pada masa kepemimpinannya, Francisco Franco begitu menyiksa warga Catalan, dikarenakan warga Catalan belum dengan tulus menjadi bagian dari Negara Spanyol. Bahkan pada tahun 1936 menjadi puncak perang saudara yang terjadi di Spanyol, ketika Presiden Barca saat itu Josep Sunyol ditangkap dan dieksekusi mati atas intruksi diktator Spanyol, Francisco Franco. Barcelona sendiri yang notabenenya  ibu kota provinsi Catalonia menjadi tempat berkumpulnya orang-orang Catalan.

Francisco Franco Bahamonde  itulah nama lengkapnya, Sang Jenderal semasa menjadi pemimpin dikenal sebagai pemimpin diktator.

Alasan politik, bukan rahasia lagi jika duel Madrid kontra Barcelona ibarat perang antara pemerintah dengan pemberontak. Madrid merupakan simbol dari negara Spanyol sedangkan Barca adalah bangsa Catalan. Tak heran jika di Catalunya, Barcelona dianggap bukan hanya sebuah klub, namun lebih sebagai simbol perjungan rakyat Catalan yang ingin merdeka.

Di dalam lapangan sendiri terlihat jelas bahwa Francisco Franco lebih mendukung Madrid yang merupakan pusat peradaban dari Spanyol dibandingkan Barcelona yang terkenal dengan pusat keagamaannya.

Bermula pada tahun 1950 kedua tim bertarung untuk memperebutkan satu pemain yaitu Di Stefano. Perebutan itu sendiri dimenangkan Madrid dengan bantuan Francisco Franco. Sejarah pun mencatat Di Stefano menjadi pemain legendaris dari Real Madrid.

Alfredo Di Stefano (Dok. soccer)

Dan hal itu tentu membuat publik Catalan semakin meradang. Jadi El Clasico sendiri bukan hanya duel antara Madrid dan Barca di dunia sepak bola semata, namun menjadi semacam perlawanan bangsa Catalan terhadap sang Jenderal dikarenakan alasan politik waktu itu. Mulai sejak itu rivalitas Barcelona dan Real Madrid terus terjadi, baik di dalam maupun di luar sepak bola.

Meski punya rivalitas membara bukan berarti transfer di antara kedua tim menjadi hal tabu. Dari sisi historis, Barca dan Madrid punya persaingan yang sengit. Kepindahan seorang pemain dari Barca ke Madrid atau sebaliknya jelas semakin akan memperuncing persaingan rivalitas yang telah mendarah daging di antara kedua tim, menjadi satu dari banyak alasan duel ini akan penuh dengan aroma dendam.

Namun tidak menutup kemungkinan ada pemain yang melakukannya dan itulah yang terjadi. Inilah beberapa pemain yang menjadi transfer cukup mengejutkan yang terjadi di antara Barca dan Madrid, ada Bernd Schuster (Barca ke Madrid), Michael Laudrup (Barca ke Madrid), Luis Enriqu (Madrid ke Barca), Luis Figo (Barca ke Madrid), Javier Saviola (Barca ke Madrid) hingga Ronaldo Luís Nazário de Lima (Barca ke Madrid).

Pemain yang bersangkutan harus siap berhadapan dengan cibiran maupun cacian dari kubu tim lamanya. Bahkan apa yang dialami Luis Figo saat dilempar kepala babi adalah bentuk persaingan di antara Barca dan Madrid sangatlah sengit.

Luis Figo

Peristiwa inilah yang ikut andil mengobarkan api permusuhan kedua klub Spanyol ini. Ketika itu pemain yang bersangkutan, hijrah dari Barca ke Madrid.

Bicara soal titel juara, Los Blancos boleh menepuk dada, Real Madrid tercatat sebagai klub tersukses di dunia dengan 74 trofi sedangkan Barcelona berada di posisi kedua dengan 72 trofi. Sedangkan rekor pertemuan di antara Barca dan Madrid tentu punya catatan yang panjang.

Meski demikian sekali lagi Madrid mengungguli Barca. Dari rekor pertemuan sebanyak 221 pertandingan, Los Merengues unggul tipis, El Real menang sebanyak 88 kali sedangkan Los Cules menang sebanyak 87 kali dan sebanyak 46 laga sisa berakhir seri. Soal produktivitas gol Madrid juga lebih unggul dibandingkan Barca. Real Madrid membukukan 367 gol sedangkan Barca 359 gol.

 

Messi dan CR7

Kembali bicara mengenai soal tranfer pemain yang terjadi di antara kedua klub selama ini, apa yang akan terjadi kalau kedua pemain yang sudah menjadi ikon klub masing-masing di masa sekarang antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi bertukar klub?

Tulisan ini juga dimuat di http://www.beritasatu.com

Posted on October 10, 2012, in Beranda, Liga Spanyol, Sepak bola. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: